Jumat, 26 November 2021

Cerbung

 MELANI KEKASIHKU  35


(Tien Kumalasari)


 


Anindita tegak berdiri, menatap tubuh Melani yang tertelungkup sambil memeluk bantal dengan isak yang masih terdengar.


“Ibu....”





“Bayiku yang cantik...” kata Anindita lembut.


“Aku sudah besar Bu, bukan bayi lagi.”


“Aduh... ibu lupa lagi... tapi kamu harus diam ya, jangan menangis lagi.”


“Tapi aku kangen sama bapak...” tangis Melani semakin keras.


Anindita naik ke pembaringan, berbaring disamping Melani dan memeluknya. Tapi Melani menggoyang-goyangkan tubuhnya agar pelukan ibunya terlepas. Anindita merengut. Ditatapnya tubuh Melani yang masih tertelungkup, dan tangisnya semakin menjadi-jadi.


“Sayang, cintaku... kekasih ibu.. diamlah.. jangan rewel.”


“Aku mau bapak.. aku mau bapak...”


“Bibiiiik...” teriak Anindita memanggil bibik.


“Ya, ada apa. Lho, kok nak Melani rewel lagi?” seru bibik sambil mendekat.


“Bagaimana ini bik, dia bilang kangen sama bapaknya,” sungut Anindita.


Bibik tersenyum dalam hati. Dia yakin bahwa ini pasti akal-akalan Melani saja, agar ibunya mau bertemu dengan bapaknya. Tapi bibik kecewa, wajah Anindita tampak muram, mulutnya cemberut. Berdebar hati bibik ketika melihat Anindita turun dari atas tempat tidur.


“Ibuuuu....” tangis Melani masih terdengar keras.


“Bagaimana ini bu, kalau sudah rewel susah membujuknya,” kata bibik ikut-ikutan mengompori.


Anindita keluar dari kamar, duduk di kursi dengan wajah masih muram. Bibik mendekat dan mengelus tangannya sambil duduk di lantai.


“Apa yang harus kita lakukan bu?” kata bibik hati-hati. Sesungguhnya ia takut Anindita akan mengamuk lagi gara-gara diingatkan pada suaminya.


“Aku tak tahan mendengar tangis anakku. Coba kamu gendong dia, ajak keluar dan beri mainan apa saja,” kata Anindita tanpa menatap simbok.


“Nak Melan tidak akan mau bu, bibik pernah mau menggendongnya saat dia menangis, tapi dia bilang bahwa dia sudah besar, tidak mau lagi digendong.”


Anindita mengangguk setuju.


“Bayiku sudah besar..” gumamnya.


“Bagaimana kalau kita turuti saja apa kemauannya?” kata bibik pelan, dengan sangat hati-hati.


Dan yang membuatnya takut benar-benar terjadi.


Anindita menatapnya dengan pandangan marah.


“Maaf bu, sungguh bibik mohon maaf. Jangan ibu marah. Bibik hanya ingin agar nak Melani tidak rewel lagi. Biasanya kalau anak kecil rewel, bisa menjadi sakit.”


“Apa?” Mata Anindita terbelalak, seperti ketakutan mendengar kata ‘sakit’.


“Dulu ada anak tetangga saya yang sakit panas, gara-gara kangen sama bapaknya yang bekerja ditempat jauh,” kata simbok nekat, sudah kepalang tanggung.


“Tidak... anakku tidak boleh sakit.” Lalu Anindita berdiri dan melangkah ke kamar dengan cepat. Dilihatnya Melani masih tertelungkup. Sesungguhnya dia mendengar apa yang dibicarakan bibik dan ibunya, karena ruang tengah ada diluar kamarnya.


Mendengar langkah ibunya, Melani melanjutkan isaknya. Lalu ia merasa ibunya memegangi tangannya, tengkuknya, dan seluruh tubuhnya dielusnya.


“Biik, apakah ini namanya panas? Benarkah bayi kecilku sakit?”


Bibik mendekat, dan ikutan  memegang tangan Melani.


“Aduh, ini namanya agak sumer bu.”


“Sumer itu apa?” tanya Anindita khawatir.


“Sumer itu agak panas, mendekati panas.”


“Apa katamu? Ambilkan kompres, cepaat.” Anindita panik.


“Ibuuu... aku tidak mau di kompres...” Melani menangis lagi.


“Ibu nggak mau kamu sakit, sayangku..”


“Aku mau bapak...” pekik Melani semakin berani.


“Bagaimana ini bu,” kata bibik pura-pura bingung.


“Ibuuuu...”


“Baiklah, panggil bapaknya kemari.” Kata Anindita dengan ketus.


“Ibbuuu...”


“Sudah, jangan menangis,” katanya kesal.


“Tapi ibu marah.. aku mau menangis lagii..”


“Tidak.. tidak...” Anindita memeluk Melani erat-erat dengan mata berlinang-linang. Bibik terkejut. Sudah lama sekali dia tidak melihat majikannya menangis. Apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang menyentuh perasaannya yang paling dalam? Atau majikannya mulai bisa meraba-raba yang ada disekitarnya dengan hatinya?


“Bibiik.. mengapa bengong disitu?” teriak Anindita agak keras.


“Oh.. eh.. apa.. ap_pa.. yang harus saya lakukan?”


“Panggil bapaknya segera.”


“Bb_baiklah...” simbok berlari seperti terbang ke arah dapur, untuk mengambil ponselnya. Tapi kemudian dia bingung, akan diapakan ponsel itu? Dia tidak tahu harus menghubungi siapa karena dia tidak mencatat nomor ponsel keluarga majikannya.


***


“Mas sudah ke rumah sakit lagi?” tanya Maruti ketika suaminya pulang siang itu.


“Sudah, tadi kesana setelah dari  kantor.”


“Bagaimana keadaan Anggoro?”


“Tadi sudah boleh duduk. Tapi aku melihat dia seperti tak bersemangat begitu.”


“Dia sangat menyesali perbuatannya, aku bisa mengerti. Tapi menurut aku keadaan Anindita seperti sudah jauh lebih baik. Dia mengingat kita, biarpun belum bisa bersikap ramah. Sikapnya masih dingin, dan hanya baik kepada bibik dan Melani.”


“Itu sudah sangat bagus. Aku yakin dia akan semakin baik. Melani benar, obat yang diminum ibunya sudah dihentikan, dan Anindita tampak tenang.”


“Melani sangat pintar mengambil hati ibunya. Aku berharap dia bisa membujuk ibunya juga agar mau memaafkan ayahnya.”


“Aku kagum pada Melani.”


“Tapi kasihan juga, dia belum diberi tahu tentang keadaan ayahnya. Bagaimana kalau aku beritahu saja mas?”


“Terserah kamu saja, tapi harus hati-hati. Sikap Anin terhadap suaminya belum kita ketahui bagaimana. Nanti kalau membuat ibunya marah malah repot kan?”


“Kalau begitu kita kesana saja. Hari ini kita belum kesana. Dan mas tidak kembali ke kantor kan?”


“Tidak, Andra sudah mengurus semuanya. Saat ini aku juga merasa tidak tenang dalam bekerja. Kepikiran keadaan Melani dan Anindita, ditambah sakitnya Anggoro.”


“Ya sudah, kita ke sana saja. Aku siap-siap ya mas?”


***


“Sa, aku mau ke rumah sakit sebentar ya, kasihan om Anggoro tidak ada yang menengok,” kata Andra di kantor setelah makan siang.


“Tapi tadi om Panji bilang mau ke rumah sakit sebentar.”


“Iya, kan cuma mampir, aku yang diserahi tugas untuk mengurus sakitnya om Anggoro, barangkali dia butuh sesuatu.”


“Baiklah, kalau ada apa-apa aku telpon kamu ya?”


Andra keluar dari ruangannya, diikuti pandangan prihatin dari Sasa, sekretaris yang juga sahabatnya.


“Kasihan keluarganya om Panji. Dulu kebingungan karena tante Anindita belum diketemukan. Setelah ketemu, bingung karena keadaannya parah. Yang satu belum kelar, om Anggoro kecelakaan,” gumam Sasa yang kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Tiba-tiba intercom diruangannya berdering. Dari CS diruang depan.


“Ya..”


“mBak, ada yang mau ketemu pak Andra.”


“Kamu kan tahu, pak Andra sedang keluar?”


“Tapi dia mau ketemu sekretarisnya. Katanya soal penting.”


“Siapa dia?”


“Seorang wanita bernama Indira.”


“Oh, wanita? Tapi baiklah, persilahkan dia menemui aku.”


Sasa duduk menunggu. Ia mengingat-ingat, apakah Andra pernah menyebut nama Indira ya? Tapi sebelum ia berhasil mengingatnya, pintu diketuk dari luar. Sasa mempersilahkan masuk, lalu seorang wanita muncul.


Sasa terpana melihatnya. Tamunya begitu cantik dan anggun. Pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuhnya membuat kecantikannya semakin menonjol. Wajah oval, hidung mancung, bibir tipis yang menawan, dan mata indah bak sepasang bintang. Aduhai. Kapan Andra mengenal wanita ini? Ada rasa tak enak dihatinya, entah mengapa.


“Selamat siang,” sapa Indira.


“Selamat siang, silahkan duduk,”


“Terimakasih,” kata Indira sambil duduk didepan Sasa. Bibirnya selalu tersenyum manis, menggambarkan sebuah keteduhan yang menawan. Dengan manis pula ia menyalami Sasa.


“Anda ingin bertemu pak Andra?”


“Ya, benar. Dia sedang keluar?”


“Ya, menjenguk kerabatnya di rumah sakit. “


“Oh, maaf. Saya Indira.”


“Saya Sasa. Sudah kenal sama pak Andra? Maksud saya sudah janjian mau ketemu pak Andra?”


“Oh, belum, saya hanya mampir, sambil ingin membicarakan sesuatu.”


Lalu Sasa teringat, Andra pernah menemukan dompet seorang wanita disebuah rumah makan. Ya, benar, Andra menyebutkan namanya, Indira. Ini ternyata orangnya? Bukan main cantiknya.


“Ada yang bisa saya bantu? Atau ada pesan untuk pak Andra?”


“Dimana kerabat pak Andra dirawat?”


“Rumah Sakit Pusat. Belum lama berangkatnya, apa anda ingin menunggu?”


“Tidak, saya mau kesana saja.”


“Sudah tahu kamar berapa beliau dirawat?”


“Saya akan menelpon dia saja. Baiklah, kalau begitu saya permisi,” katanya sambil berdiri, menyalami Sasa lagi, kemudian melenggang menuju pintu keluar.


Sasa kembali terpana. Wanita itu sungguh menarik, tapi ada rasa kurang suka dihati Sasa. Kenapa ya? Sasa juga bingung tampaknya.


“Kenapa aku ini? Dia hanya mau ketemu Andra, memangnya kenapa? Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku?” gumam Sasa sambil menyandarkan tubuhnya di kursi yang didudukinya.


***


“Melani... ayo bangunlah, jangan rewel lagi ya?”


“Aku kangen sama bapak..” bisiknya lirih.


“Iya, bibik sudah ibu suruh memanggil dia,” kata Anindita, tapi tampak bahwa ia kurang suka. Melani terdiam, paling tidak ibunya mengijinkan bapaknya datang. Entah bagaimana nanti membuat supaya ibunya mau berbaikan, Melani baru akan memikirkannya. Tiba-tiba Melani teringat, bibik tak mungkin bisa meghubungi bapaknya. Dia mana tahu nomor kontak keluarganya.


Ketika Anindita keluar, dan duduk dikursi, Melani menghampiri bibik, dan memberikan ponselnya sendiri secara diam-diam, lalu memutar nomor telpon ayahnya.


“Bik, ini aku sudah memutar nomornya bapak, bibik tunggu ya, dan bicaralah, serta meminta agar bapak mau datang kemari.”


Bibik mengangguk senang. Dia keluar rumah lewat pintu belakang, dan menunggu jawaban Anggoro dari seberang sama. Tapi lama sekali tak ada jawaban. Bibik mencoba memutar lagi, tetap tak ada jawaban. Bibik bingung. Ia akan mengatakannya pada Melani, tapi Melani sudah duduk di samping ibunya.


“Ibuuu.. mengapa wajah ibu muram? Ibu marah sama Melani?”


Anindita menatap Melani dengan tersenyum tipis.


“Ibu tidak akan marah sama bayi kecilku yang sudah besar.”


Melani tersenyum, dan memeluk ibunya erat. Ketika itulah dia melihat bibik menggoyang-goyangkan tangannya dan mulutnya berbisik mengatakan, ‘tidak bisa’.


Melani kecewa. Ia melepaskan pelukan ibunya dan bermaksud mendekati bibik untuk memberikan nomor budenya atau Andra sepupunya, tapi tiba-tiba dilihatnya bude dan pakdenya muncul.


“Ibu.. ada bude sama pakde...” teriak Melani.


Anindita bergeming. Ia mengira Anggoro akan datang bersama mereka, tapi ternyata tidak. Mereka hanya berdua.


“Dita.. apa kabarmu hari ini ?” tanya Maruti sambil mendekati Anindita yang masih saja duduk mematung.


“Bude, bude tidak bersama bapak?” tanya Melani yang membuat Maruti heran. Bagaimana mungkin Melani menanyakan ayahnya sementara ada ibunya didekatnya?”


“Ibu mau bapak datang kemari, bude. Ya kan bu?”


Anindita mengangguk, tapi wajahnya masam.


“Tolong bude telpon bapak. Ibu mengijinkan Melani bertemu bapak.”


Alangkah senang hati Maruti, karena semakin ada kemajuan pada diri adiknya.


“Mas, duduklah disini. Lihat, Dita suka kita datang, bukan? Aku membawa nagasari, makanan kesukaan kamu juga kan Dit?”


Maruti memberikan bungkusan kepada Melani. Melani mengambil piring, lalu meletakkan makanan itu di meja, di depan ibunya.


“Ibu, Melani buka bungkusnya ya? Ibu suka kan?”


Anindita hanya mengangguk. Lalu ia menerima nagasari yang sudah dikupas kulitnya, serta diletakkannya disebuah piring kecil.


“Bude sudah menelpon bapak ?”


“Belum nak. Sebentar, bude mau bilang, bahwa ayahmu sedang dirumah sakit,” kata Maruti pelan.


Bukan hanya Melani yang terkejut. Anindita menghentikan mengunyah nagasari yang sudah digigitnya. Ia juga tampak terkejut.


“Bapak sakit ?”


Maruti mengangguk.


“Kapan bude?”


“Sudah seminggu lebih.”


“Mengapa bude baru mengatakannya?” kata Melani yang mulai berkaca-kaca. Ia menduga ayahnya pasti sakit karena hatinya terluka.


“Bapakmu kecelakaan sepulang dari sini seminggu yang lalu.”


“Bapak ?”


“Maaf Melan, bude tidak ingin kamu terganggu.”


“Tidak, tidak... Ibu.. ijinkan aku ke rumah sakit untuk melihat bapak,” kata Melani sambil menangis.


“Anakku, jangan menangis..”


“Ibu, ijinkan aku pergi ke rumah sakit..”


“Kamu jangan pergi.. aku tidak mau kamu pergi...” Anindita mulai berteriak. Bibi menatapnya khawatir.


Melani memeluk ibunya.


“Ibu, kalau ibu tidak mau Melani pergi, ayolah ibu pergi bersama Melani, ya bu. Kita pergi bersama-sama..” bujuk Melani sambil tetap menangis.


Anindita menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar