MELANI KEKASIHKU 34
(Tien Kumalasari)
“Suruh dia pergi... pergiiii...” Anindita terus berteriak-teriak.
Melani memeluknya erat.
“Ibu... ibu jangan marah ya.. ibu jangan marah sama bapak.”
“Suruh dia pergiiiii.. suruh dia pergi....” Anindita tak mau mendengarkan bujukan Melani. Kebenciannya kepada Anggoro sudah memenuhi seluruh aliran darahnya. Serasa tak akan ada tempat lagi dia dihatinya. Mata Anindita nyalang memandang ke arah luar.
“Pergiiii... suruh dia pergiii...” teriaknya tak berhenti.
Melani hanya bisa memeluknya erat. Air matanya mulai membasahi pipinya. Ia merasa kasihan kepada ayahnya yang diusir dengan kemarahan meluap oleh ibunya. Tapi dia juga iba melihat keadaan ibunya yang berteriak-teriak mengusir ayahnya.
“Baiklah, saya mau pulang dulu mas..” pamit Anggoro kepada Panji sambil berdiri dan melangkah lunglai keluar rumah.
“Bawalah mobilku Ang,” pinta Panji.
“Tidak, biar aku jalan kaki saja..” katanya sambil menjauh.
Langkahnya begitu gontai. Ia merasa seluruh tulang terlepas dari tubuhnya, sehingga ia hampir tak mampu lagi melangkah. Lalu ia menyadari, barangkali inilah yang dulu juga dirasakan isterinya ketika dia mengusirnya. Sangat bengis, tak punya perasaan. Padahal Anindita tak berdosa.
Air mata meleleh membasahi pipinya. Anggoro merasa, bahwa dia memang harus menebusnya.
“Semua memang salahku Dita. Bukan karena kamu kejam ketika kamu mengusirku. Kamu pantas membenciku, bahkan membuangku ke comberan. Aku tidak pantas menyentuhmu. Aku laki-laki tak berharga Dita, aku laki-laki lemah dan tidak bisa menjadi pelindung bagimu dan Melani, sehingga bertahun-tahun kalian menderita,” katanya sambil terus melangkah dengan lunglai.
Ia terus melangkah sehingga tak sadar ketika sebuah mobil menyerempetnya. Anggoro terpelanting, dan jatuh tak sadarkan diri.
Lalu lintas sangat ramai. Jeritan orang-orang yang terkejut, memenuhi tempat terjadinya kecelakaan itu. Mereka tak sempat menghentikan mobil yang barusan menyerempet dan kabur tanpa belas kasihan.
“Heiiii... berhenti !!” beberapa orang berteriak, tapi mobil itu berbelok di tikungan.
“Tolong pinggirkan,” kata seseorang.
“Dia berjalan terlampau ke tengah,” komentar beberapa orang.
Sebuah mobil berhenti, pengemudinya turun tak jauh dari sana, lalu setengah berlari mendekati.
“Om Anggoro ?”
Beberapa orang yang berkerumun minggir ketika mendengar laki-laki yang turun dari mobil itu menyebut sebuah nama. Dia memang Abi, yang akan pergi ke rumah bibik.
“Bapak mengenalnya?” tanya seseorang.
“Ya, dia kerabatku. Tolong bantu aku memasukkannya kedalam mobil, aku akan membawanya ke rumah sakit.
Beberapa orang membantu mengangkat tubuh Anggoro yang tak sadarkan diri, dan membaringkannya di jok belakang mobil Abi. Abi segera melarikannya ke rumah sakit.
***
“Suruh dia pergi... suruh pergiii...” Anindita masih berteriak-teriak.
Maruti mendekat, memegang tangan Anindita yang menuding-nuding ke arah depan.
“Anin... Dita... tenang ya, dia sudah pergi,” kata Maruti lembut.
Anindita melepaskan pegangan kakaknya.
“Kamu harus tenang, lihat, Melani sedih karena melihat kamu marah,” kata Maruti lagi.
Mendengar kata Melani, Anindita menoleh ke arah samping, dan melihat Melani mengusap air matanya.
“Melani kecilku ... jangan nangis..” katanya sambil memeluk Melani.
Melani terisak di pundak ibunya.
“Ibu jangan membenci bapak..”
“Dia laki-laki jahat!”
“Ibu, maafkanlah dia..”
“Dia jahat !! Aku benci.. aku benci..!” Anindita berteriak lagi.
“Baiklah ibu.. baiklah.. “ bujuk Melani sambil mengusap air matanya.
“Kamu jangan membela dia... dia itu jahat.. jahat..!”
“Baiklah, baiklah...”
“Anindita sayang, sudah, jangan marah lagi, dia sudah pergi. Kamu mau makan? Tadi aku masak rendang daging kesukaan kamu,” kata Maruti.
Anindita menatap Maruti. Ia merasa sangat dekat dengan wanita yang berdiri didepannya.
“Kamu melupakan aku? Aku sangat kangen sama kamu..”
Anindita tak menjawab, tapi matanya mulai meredup.
“Ibu, aku lapar sekali, aku mau makan,” kata Melani, untuk memancing ibunya supaya mau makan.
“Sayangku, kamu lapar? Bibiiik... mana bubur untuk Melani?”
“Ibu, aku tidak mau bubur...”
“Susu ?”
“Aku mau nasi, sama rendang...”
“Melani, anak kecil tidak boleh makan rendang, nanti perut kamu sakit.”
“Ibu, aku sudah besar...”
Anindita menatap wajah anaknya.
“Ibu selalu lupa kalau aku sudah besar..” gerutu Melani.
“Aku selalu lupa..”
“Ayolah makan ibu, aku mau ibu juga makan..”
Dan karena bujukan Melani itu pula maka Anindita bersedia makan, dengan rendang daging masakan kakaknya.
“Rendang ini sangat enak...”
“Enak sekali ibu..”
“Dulu kakakku suka masakin rendang untuk aku...” gumamnya pelan.
“Ini memang masakan kakaknya ibu. Ini masakan bude Maruti.”
Anindita berhenti menyuap makanannya. Ia seperti mengingat ingat...
“Bude Maruti sangat pintar memasak ya bu, rendangnya enak sekali.”
Anindita mengangguk lemah. Nama itu sudah sejak kemarin didengarnya, seperti tak asing baginya.
“Ibu sayang kan, sama bude Maruti? Sama pakde Panji?”
“Biiik... nak ganteng tidak kemari?” tiba-tiba teriaknya.
Bibik mendekat.
“Nak ganteng tidak kemari bu, mungkin bekerja.”
Anindita melanjutkan makan, sambil sebentar-sebentar memandangi Melani yang tersenyum-senyum mendengar ibunya ingat pada nak ganteng.
“Ibu, aku mau tidur di kasur yang empuk...” kata Melani. Anindita tampak terkejut.
“Bibiiik.. Melani minta kasur yang empuk.. apa ada?”
“Ibu, bude Maruti sudah membawa kasur yang empuk, supaya kita bisa tidur nyenyak.”
Anindita menoleh ke samping. Dilihatnya Maruti berdiri, bersandar pada pintu sambil terus memandanginya.
Maruti mengangguk-angguk, meng ‘iya’ kan apa yang dikatakan Melani.
“Daripada Melani rewel, biar mas Panji menata kasurnya ya Dit?”
Kalau ancaman itu adalah ‘Melani rewel’, Anindita tak akan bisa menolaknya. Melani adalah segala-galanya.
Lalu ia membiarkan Panji membawa kasurnya ke dalam kamar, dibantu bibik. Kasur baru itu ditumpuknya begitu saja diatas kasur lama yang sudah menipis. Itupun kepunyaan pemilik rumah yang diberikan pada bibik karena sudah tidak dipakai.
Maruti sibuk membantu mengalasi dengan seprai baru, bantal guling dengan sarung yang baru. Bibik tersenyum senang.
“Gara-gara ada nak Melani, ibu Dita lebih gampang diatur. Nak Melan sangat pintar. Dia memiliki cara yang bagus untuk meluluhkan hati ibunya,” kata bibik sambil membantu memasang sarung guling.”
“Iya bik, syukurlah. Semoga perlahan-lahan nanti Anindita bisa sembuh sepenuhnya. Dia juga belum begitu mengenal aku, ia masih memandang aku seperti memandang orang asing,” kata Maruti.
“Hanya kasihan pak Anggoro ya bu, terpaksa pergi. Pasti sangat sakit hatinya. Tapi dulu pak Anggoro juga mengusir ibu Dita bersama nak Melani yang masih bayi.”
“Untunglah ada bibik yang setia melayani. Aku harus berterimakasih sama kamu bik. Entah bagaimana nasib Dita kalau tidak ada bibik.”
“Sudahlah bu, kalau itu memang dasarnya bibik tuh sayang banget sama ibu Dita. Nah, sudah selesai, sekarang kamarnya jadi rapi.”
“Nanti kasur satunya yang lebih kecil, bisa untuk tidur bibik.”
“Aduh, mau diletakkan dimana bu, kamarnya hanya satu.”
“Tidak bik, didekat dapur itu aku lihat masih ada tempat. Ada bangku panjang yang bisa untuk meletakkan kasurnya. Nanti biar mas Panji mengaturnya.”
“Kalau begitu biar bibik bersihkan dulu ya bu.”
“Lampu kamar ini diganti yang lebih terang ya bik, adakah toko alat-alat listrik disekitar sini?”
“Ada bu, nanti saya belikan. Atau sekarang saja bu, biar kamarnya sekalian beres, sehingga ibu Dita senang. Dekat kok. Sebentar ya bu.”
“Eh, bik.. uangnya...”
“Ini masih ada bu,” kata bibik sambil menjauh.”
***
Abi menunggui Anggoro yang masih dirawat. Tapi dia sudah sadar. Dokter meminta agar Anggoro dirawat inap karena ada gegar otak walaupun ringan.
Abi sudah memilihkan kamar terbaik untuk Anggoro, tapi ia belum mengabari siapapun. Ia tahu keluarga Panji ada di rumah bibik. Kalau dia mengabari dan Melani mendengarnya, pasti dia akan sedih dan bingung, padahal dia sedang mencoba mendekati ibunya.
Abi juga ingin mengabarkannya pada Andra, tapi tadi Andra bilang akan ada tamu di kantornya, pasti dia sedang sibuk.
Abi duduk di dekat Anggoro yang sedari tadi juga tak banyak bicara.
“Apa yang om rasakan? Pusing bukan?” tanya Abi.
“Sakit...”
“Mana yang sakit om? Biar saya bilang sama dokternya.”
“Hatiku yang sakit. Bukan karena aku diusir oleh isteriku dengan kasar, tapi karena aku menyadari semua kesalahanku selama ini,” katanya pelan.
“Semua sudah berlalu. Yang berbuat kejahatan sudah pasti akan menerima hukumannya.”
“Tapi aku juga terhukum.”
“Dengan berjalannya waktu, pasti semuanya akan baik-baik saja. Jangan terlalu menyesali yang telah lalu.”
“Aku pantas mendapatkannya, bahkan lebih beratpun. Dosaku serasa tak terampuni,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Abi memegang tangan Anggoro dan menggenggamnya erat.
“Tapi Abi juga minta maaf om, Abi belum mengabari keluarga om Panji, karena ana Melani disana. Nanti kalau dia mendengarnya pasti sedih dan bingung.”
“Jangan Abi, jangan sampai Melani mendengarnya, karena saat ini dia sedang mendekati ibunya, dan berusaha membuatnya sadar.”
“Baiklah, nanti Abi akan bilang saja pada Andra, dengan pesan agar jangan sampai Melani mendengarnya.”
“Terimakasih karena kamu menolongku Abi.”
“Kebetulan saja saya melihat ketika kecelakaan itu terjadi. Saya sebenarnya mau ke rumah bibik juga.”
“Anak baik. Semoga kamu bisa menjadi menantuku,” katanya pelan.
Abi tersenyum.
“Apa kamu sudah punya pacar?”
Abi menggeleng.
“Saya mencintai Melani,” katanya berterus terang.
Anggoro menatap Abi, dan mengulaskan sebuah senyuman.
“Aku senang mendengarnya.”
***
“Syukurlah mas, tampaknya dia tertarik dengan penawaran kita tadi,” kata Sasa siang hari itu.
“Semoga berhasil. Ini proyek besar.”
“Aamiin.”
Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Andra.
“Kalau kamu sudah nggak sibuk, aku akan mengabarkan sesuatu yang tidak begitu baik.”
Andra terkejut. Pesan itu dari Abi. Tak puas hanya sebuah pesan, Andra menelponnya.
“Abi, ada apa?”
“Kamu masih sibuk?”
“Tidak, tamunya sudah pulang.”
“Om Anggoro kecelakaan.”
“Apa?”
“Kalau bisa datanglah ke rumah sakit, aku tuliskan alamatnya. Ceritanya di rumah sakit saja. Beliau harus dirawat karena lukanya. Tapi jangan sampai kamu mengabari ayah atau ibumu dulu, nanti Melani mendengarnya.”
“Baiklah, tuliskan rumah sakit dan kamarnya, aku segera ke sana.”
***
Anindita terkejut melihat kamarnya sudah rapi, dan lampunya menjadi terang benderang. Takut ibunya akan menolaknya, Melani buru-buru melompat ke atas kasur dan berbaring sambil memeluk guling.
“Ibu, ini menyenangkan, aku suka sekali,” katanya sambil berguling-guling dan tertawa-tawa. Maruti yang menyaksikan dari luar kamar, sangat kagum melihat cara Melani meluluhkan hati ibunya.
“Kamu suka?” tanya Anindita.
“Suka sekali, ayo ibu tidurlah disini.”
Kegembiraan Melani selalu membuat Anindita senang. Ia kemudian juga berbaring disamping Melani, lalu memeluk Melani dengan rasa sayang.
“Bayiku sudah besar, ibu sangat senang. Kamu tidak boleh rewel lagi ya? Kalau kamu ingin sesuatu, bilang saja pada ibu.”
“Benarkah ?”
“Tentu saja. Kamu kesayangan ibu, cinta ibu. Buah hati ibu.”
***
Hari-hari terus berlalu. Melani selalu berusaha agar ibunya senang. Sebentar-sebentar dia mengingatkan kebaikan Maruti dan Panji, sehingga membuat Anindita bisa menerima kedatangan mereka. Maruti harus berterimakasih kepada Melani, yang muncul seperti obat yang perlahan membuat Anindita semakin bisa berbiara seperti orang normal. Melani juga meminta agar bibik menghentikan pengobatan atas ibunya, yang sepertinya hanya membuat ibunya tertidur pulas. Berhari-hari Anindita tak pernah lagi meminum obatnya, dan setiap kali mendengar cerita Melani, Anindita selalu tersenyum senang. Yang membuat Melani tersenyum lucu adalah apabila setiap kali Abi datang, ibnya selalu memanggilnya nak ganteng. Tapi sejauh ini tak seorangpun memberi tahu Melani bahwa ayahnya dirawat di rumah sakit. Melani mengira, ayahnya tidak pernah datang karena menjaga perasaan ibunya.
Hari itu ketika Anindita sedang mandi, Melani duduk sendirian di kamar, sementara bibik sedang memasak di dapur. Melani mendengar ibunya berbicara dengan bibik, tentang masakan yang harus dimasaknya.
“Melani suka sekali ayam goreng. Besok beli ayam lagi ya?”
“Iya bu...”
“Tapi aku nggak punya uang bik, apa kamu masih punya?”
“Masih ada bu, bu Maruti memberikan uang pada bibik untuk belanja setiap hari.”
“mBak Maruti itu kakakku kan bik?”
“Iya bu, itu sebabnya bu Maruti sangat memperhatikan ibu, karena bu Maruti sayang sama ibu,” kata bibik.
Melani tersenyum mendengar ibunya mulai menganal kakaknya dengan baik. Anindita sudah mandi dan sudah berpakaian bersih.
Tapi ketika ia masuk ke kamar, dilihatnya Melani sedang telungkup di tempat tidur, sambil memeluk bantal. Anindita terkejut mendengar Melani terisak menangis.
“Sayangku, cintaku.. mengapa kamu menangis? Kamu ingin apa? Bilang sama ibu.”
“Ibu...”
“Ya, katakan saja kamu ingin apa..”
“Ibu.. Melani kangen sama bapak...”
Anindita mundur selangkah, urung memeluk anaknya.
.
Cerbung ,naskah novel yg indah lnjt berkarya bpk.
BalasHapus