Jumat, 03 Desember 2021
MELANI KEKASIHKU 41
(Tien Kumalasari)
“Dita... lihat...kamu suka?” tanya Maruti bersemangat.
Anindita menatap baju-baju itu, matanya berkedip-kedip, dan tampak berbinar. Tiba-tiba ia melongkok ke arah depan. Seperti ada yang dicarinya.
“Dita, coba berdiri, sayang... nah.. begini...” Maruti membantu Anindita berdiri, dan menempelkan gaun itu ditubuhnya.
“Waaah... bagus... cantik sekali... “ kata yang hadir hampir bersamaan. Tapi Anindita masih melihat ke arah depan.
“Dita, kamu mencari siapa?” tanya Laras.
Anindita menundukkan wajahnya, melihat baju yang ditempelkan ditubuhnya. Seulas senyuman tersungging di bibir tipisnya.
“Cantik Dita...”
Anindita mengelus baju itu, lalu matanya kembali menatap ke arah depan.
“Kamu mencari siapa?”
“Diluar... siapa?” tanya Anindita.
“Tidak ada siapa-siapa, semua yang menyayangi kamu ada disini,” kata Maruti.
Anindita mendekap baju itu ketubuhnya.
“Ibu, ayo kita coba bajunya sekarang...” kata Melani sambil menarik lengan ibunya lembut.
Anindita menurut, melangkah ke kamar mengikuti anak gadisnya.
“Seperti ada yang dicarinya...” kata Laras pelan, berharap Anindita tak mendengarnya.
“Benar.. “
“Aku tahu Bu, Kemarin om Anggoro bilang, nggak usah bilang baju itu dari siapa, kalau tante Duta peka, pasti tahu siapa pengirimnya, gitu bu,” kata Andra yang juga mengucap pelan.
“Ooo...” kata Maruti dan Laras hampir bersamaan.
“Dia mencari-cari, apakah Anggoro ada diluar... pasti itu,” kata Maruti sambil tersenyum lebar.
“Bagus sekali tante... ini pertanda bagus,” kata Andra.
“Benar, mereka akan segera berbaikan,” kata Agus.
Mata mereka memancarkan sinar bahagia. Tapi tak ada seorangpun yang menyebut nama Anggoro. Khawatir Anindita tersinggung dan marah.
Ketika Anindita keluar .. semua menatapnya sambil memuji tak henti-henti.
“Cantiknya adikku...”
“Cantik tante... “
Anindita tersipu, lalu duduk kembali di kursinya, sambil sesekali mengelus baju yang dipakainya.
Maruti ingin mengatakan siapa yang memberinya, tapi diurungkannya. Sikap Anindita belum jelas seperti apa, terkadang dia baik, dia mengenal semua orang, tapi siapa tahu suatu saat berubah lagi.
***
Andra dan Sasa pamit pulang terlebih dulu karena harus kembali ke kantor.
“Ndra, kalau kamu sudah sampai di kantor, bilang sama bapak agar segera menyusul kemari ya. Nanti simbok biar tidur disini, soalnya tampaknya simbok masih kangen sama anaknya,” pesan Maruti.
“Baik bu, nanti Andra sampaikan.”
Dalam perjalanan pulang itu Sasa tampak diam. Ia masih teringat Indi yang berkali-kali menelpon Andra. Dan dia yakin nanti pasti akan menelponnya lagi.
“Sa, kok diam sih...”
“Apa?”
“Kamu... dari tadi diam. Biasanya cerewet.”
“Ngantuk aku.”
“Jam segini ngantuk?”
“Kekenyangan..”
Andra tertawa.
“Kalau begitu nanti saja di kantor kamu tidurnya, kalau kamu tidur disini, aku nggak kuat lho nggendong kamu turun. Pasti lebih berat karena kamu habis makan sampai kekenyangan.”
“Enak aja. Siapa yang mau minta gendong sama kamu?”
“Kalau kamu ketiduran di mobil, masa aku biarkan kamu tidur sementara aku turun. Kalau diculik orang bagaimana?”
“Memangnya kenapa kalau aku diculik? Kamu sedih? Menangis?” ledek Sasa.
“Iya dong sedih dan menangis sampai bergling-guling.”
“Bohong...”
“Beneran. Habis nggak ada lagi sahabat aku yang setia menemani, yang perhatian sama aku...”
“Kamu tuh diperhatikan, tapi apa kamu juga perhatian sama aku?”
“Perhatian dong. Dari tadi aku merhatiin kamu terus, bibirnya manyun begitu dari tadi. Kalau bukan karena aku perhatian, mana bisa aku melihatmu cemberut, sampai aku bertanya ‘kenapa’. Ya kan?”
“Ya sudah, buruan nyetirnya, biar segera sampai di kantor. Nanti ada yang nungguin lho.”
“Memangnya siapa nunguin aku?”
“Yang bolak-balik nelpon tadi. Pastinya kamu ingin buru-buru balas menelponnya. Ya kan?”
“Ngarang.”
“Benar kan?”
Andra meneoleh ke arah Sasa, dan menangkap lagi bibir manyun itu dengan matanya. Senyumnya melebar. Ia hampir yakin kalau Sasa cemburu. Dan bukankah cemburu itu tandanya cinta? Selama ini mereka memang sangat dekat, saling memperhatikan, saling menyayangi, tapi salah siapa kalau rasa sayang itu berubah menjadi cinta? Andra tiba-tiba juga merasa aneh. Menyadari bahwa ternyata didalam hatinya juga terselip rasa itu. Tanpa Sasa didekatnya, serasa sepi hari-harinya. Melihat Sasa cemberut, hatinya juga merasa seperti dicubit. Aduhai..
“Sa...”
Sasa menoleh ke arah laki-laki ganteng di sampingnya. Menatap hidung mancungnya, dan mata tajamnya yang kadang tampak sangat kocak setiap kali memandangnya.
“Ada apa?”
“Tadi tuh yang menelpon memang Indi..”
“Nggak nanya,” jawab Sasa ketus.
“Tapi aku ingin memberitahu kamu.”
“Nggak penting lah. Beritahu aku, kalau ada hubungannya dengan tugas aku. Yang ini sepertinya bukan.”
“Ya, bukan karena perumahan itu. Dia sudah membayar lunas kan?”
“Sudah diurus sama bagian keuangan.”
“Sa, apa kamu mengira aku sama Indi ada hubungan selain masalah rumah?”
“Itu bukan urusan aku dong. Ada atau tidak, apa peduli aku?”
“Jadi kamu nggak peduli lagi sama aku? Duuuh..... sedihnyaaaa...” kata Andra sambil bersuara seperti orang menangis, untuk menggoda Sasa.
“Iih, nggak lucu...”
“Ya memang nggak lucu, mana ada orang menangis kok dianggap lucu.”
“Yang jelas aku nggak suka sama dia,” lanjut Andra.
“Wauww...”
“Kok ‘wauuw’...?
“Seorang gadis cantik.. pintar.. anggun, mempesona... pria mana yang nggak suka?”
“Ada kalanya kecantikan itu tidak ada artinya. Dan laki-laki itu, tidak selalu tertarik kepada sebuah kecantikan lhoh, apalagi kemudian jatuh cinta.”
“Ini aneh..”
“Aneh tapi nyata. Aku lebih suka kepada gadis yang cerewet, centil, lucu, menggemaskan, dan penuh perhatian.”
“Oo..o..”
Andra menoleh lagi ke arah gadis disampingnya, dan sebelah tangannya bermaksud meraih tangan Sasa, tapi dikibaskannya.
“Dilarang pegang-pegang, kita bukan muhrim..”
“Baiklah, kalau begitu kapan ya kita bisa menjadi muhrim.”
“Apa maksudmu?”
“Aku akan melamar kamu.”
Sasa terkejut bukan alang kepalang. Ia ingin menjawab, tapi mobilnya sudah memasuki halaman kantor. Andra segera memarkir mobilnya, dan berjalan cepat menghampiri ayahnya yang tampaknya bersiap untuk pergi. Sasa mengikutinya.
“Bapak mau kemana?”
“Aku menunggu kalian. Bapak mau menyusul ibumu.”
“Oh, baiklah, memang tadi ibu berpesan agar bapak segera menyusul ibu.”
“Bagaimana keadaan tante kamu?”
“Baik. Tampaknya tadi melihat dokter Santi di televisi, lalu tante berteriak-teriak memanggil Sasa.”
“Dia ingat sama Sasa?”
“Tidak, bukan Sasa yang ini. Sasa kecil yang digendongnya dulu. Pastinya ketika terjadi peristiwa dokter Santi kejar-kejaran sama polisi.”
“Lalu...?”
“Ya sudah, lalu semua orang mengatakan kalau Sasa sudah besar, dan tante menerimanya.”
“Baju itu.. bagaimana? Diterima?”
“Diterima, tampaknya senang, dan seperti mencari-cari siapa yang memberi. Sudah, bapak kesana saja sekarang, biar ibu sama tante Laras bercerita.”
“Baiklah kalau begitu.”
Begitu ayahnya menaiki mobil, Andra dan Sasa melangkah masuk kedalam ruangannya. Sasa tak mengucapkan apa-apa. Dia masih terkejut mendengar ucapan Andra. Melamar? Pasti Andra bercanda.
Begitu memasuki ruangan, belum sampai Andra duduk, ponselnya berdering lagi. Sasa hanya melirik sekilas, kemudian duduk di kursinya sendiri, dan sibuk membuka lagi laptop yang ditinggalkannya lumayan lama. Tak ada suara orang berbicara dengan ponsel, dan ponsel itu juga berhenti berdering. Sasa melirik ke arah Andra, dan melihat Andra mulai membuka berkas-berkas yang ada dimejanya.
Ponselnya kembali berdering, tapi Andra tak bermaksud menerimanya. Ia kembali mematikannya dan melanjutkan membuka-buka berkas yang menumpuk dan belum sempat di sentuhnya.
“Jangan karena sungkan, lalu telponnya tidak diterima. Kasihan kan?” kata Sasa sambil terus membuka-buka file yang harus dikerjakannya.
“Banyak pekerjaan dan tidak sempat untuk mengobrol,” jawab Andra yang terus membuka buka berkas lalu menelitinya.
“Tapi aku tadi serius. Apa kamu marah?” kemudian Andra ingin mengatakan sesuatu.
Sekarang Sasa mengangkat wajahnya, menatap ke arah Andra yang juga menatapnya. Mata mereka berpadu, dan memercikkan bunga-bunga aneh yang belum pernah mereka sadari sebelumnya.
“Marahkah?”
“Kenapa?”
“Karena aku bilang mau melamar kamu.”
“Aku tahu kamu bercanda, masa aku harus marah,” Sasa kembali menundukkan mukanya.
“Aku bilang serius. Kamu tidak mendengarnya?”
Sasa tak menjawab, matanya terus menatap Andra tak berkedip, tapi dia berusaha menenangkan debur dadanya.
“Aku cuma cinta sama kamu, Sasa,” ucapnya dengan mata berbinar.
Wajah Sasa memerah. Sungguh tidak romantis, mengucapkan cinta dari atas kursi yang saling berjauhan.
“Beli bunga kek, lalu berikan sambil berlutut dihadapanku,” kata batin Sasa. Tapi sungguh Sasa tak menolaknya. Ia ingin bilang bahwa dirinya lebih tua, tapi ia sudah tahu apa nanti jawaban Andra, jadi tidak diucapkannya. Lagi pula bibirnya tak mampu mengucapkan apapun juga.
“Kamu tidak marah kan?”
Sasa menggeleng.
“Kita selesaikan pekerjaan kita, nanti kita bicara lagi,” kata Andra sambil tersenyum. Sasa terpana, baru kali ini ia melihat senyuman yang begitu manis dan menggetarkan.
***
“Malam itu simbok tidur diruang dapur bersama bibik. Walaupun tidur agak berdesakan, tapi mereka tetap merasa nyaman. Mereka asyik bercerita tentang pengalaman mereka. Satunya bercerita tentang saat Melani dilarikan, satunya lagi bercerita saat menerma Melani kecil yang menangis menjerit-jerit dan diserahkan oleh seorang wanita cantik kepada dirinya.
“Sungguh menyedihkan, orang-orang baik yang hidup sengsara gara-gara kejahatan seseorang,” kata simbok.
“Yang jahat pasti akan mendapat hukumannya,” sahut bibik.
“Kata pak Panji, kita nanti juga akan dipanggil sebagai saksi,” ujar simbok.
“Apa kita akan ditahan?” kata bibik khawatir.
“Tidak, mengapa ditahan. Kata pak Panji kita tidak usah takut, hanya harus mengatakan apa yang kita lihat dan kita alami dengan sejujur-jujurnya.”
“Semoga semuanya cepat selesai, dan kedua majikanku segera bisa bersatu kembali dalam suasana yang bahagia, karena nak Melani sudah pasti akan selalu bersama mereka.”
“Semoga kita juga masih akan tinggal bersama mereka..” gumam simbok yang merasa berat berpisan dengan Melani yang telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.
“Kita pasti akan terus bersama mbok, karena bu Dita tak akan bisa berpisah dari saya.”
“Dan Melani juga sudah berjanji tak akan meninggalkan saya.”
“Senangnya kalau nanti bu Dita sudah pulih kembali dan sudah mau menerima lagi suaminya.”
Sementara simbok dan bibik asyik bercerita sampai larut malam, demikian juga didalam kamar. Dengan manisnya Melani bercerita tentang kejadian demi kejadian, yang membuat meraka harus terpisah-pisah, sehingga ketemu ketika dirinya sudah besar.
Anindita tampak memperhatikan setiap kata dan kalimat yang diucapkan Melani. Hanya sesekali dia menimpali, ketika ada satu dua peristiwa yang diingatnya.
“Dokter Santi itu jahat...”
“Iya ibu, itu sebabnya dia harus mendapat hukuman.”
Anindita mengangguk-angguk.
“Sasa, gadis kecil dengan rambut dikepang dua... aku sayang anak itu..”
“Tadi ibu sudah ketemu kan?”
“Dia sudah besar. Semua bayi menjadi besar, anak kecil menjadi besar.”
“Iya bu, lama-lama juga bayi menjadi besar, Tidak mungkin terus menjadi bayi. Kan setiap hari diberi makan, minum susu, supaya cepat besar, ya kan bu.”
“Kamu juga diberi makan, diberi susu.”
“Nah, makanya sekarang Melani menjadi besar. Sasa menjadi besar.”
Anindita tersenyum senang, ia masih tersenyum ketika kantuk menyerangnya dan dia terlelap dalam mimpi.
***
Pagi hari itu Anindita sudah mandi, dan minta agar Melani menyiapkan gaun barunya untuk dipakai.
“Iya ibu, sini... Melani bantu mengenakan bajunya. Mau yang ini dulu, ada pita coklat tua dibawahnya, atau yang satunya?”
“Yang ini, yang ada pitanya.”
“Baiklah, “
Dengan riang Melani membantu ibunya berpakaian, dan merasa kagum akan kecantikan ibunya.
Ketika mereka keluar dari kamar, simbok dan bibik bertepuk tangan dengan riang.
“Ya ampuun, seperti kakak adik saja..” puji simbok.
“Benar.. seperti kakak adik.”
Anindita tersenyum sambil memegang-megang bajunya.
“Bu Dita, tadi saya sama simbok beli nasi liwet sama ketan .. ibu mau?” kata bibik.
“Aku mau..”
“Sudah saya tata di meja, bu Dita sama nak Melan makan dulu, simbok nanti makan bareng bibik saja,” kata bibik lagi.
“Jangan bik, kita berempat akan makan bersama-sama dalam satu meja.”
“Tapi kursinya ha nya tiga..”
“Ambil kursi didepan itu satu. Bisa kan, tingginya juga sama,” kata Melani.
“Baiklah, biar simbok yang mengambilnya,” kata simbok sambil bergegas ke depan.
Pagi itu mereka makan dengan nikmat.
Setelah sarapan, Anindita duduk di ruang tengah, ditemani Melani sementara simbok dan bibik pamit untuk belanja ke pasar. Hari itu Anindita minta agar bibik memasak sayur bening dan bandeng presto goreng.
“Ibu tahu, ketika ibu berpakaian seperti ini, ibu kelihatan lebih muda, sehingga simbok sama bibik mengira kita adalah kakak dan adik.
“Aku tidak menjadi besar .. “
“Tidak, orang yang sudah besar tidak bisa menjadi lebih besar lagi.”
Tiba-tiba mata Anindita menatap ke arah pintu, dengan mata terbelalak. Seorang laki-laki gagah berdiri disana dengan tersenyum manis.
***
Besok lagi ya.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
MELANI KEKASIHKU 34 (Tien Kumalasari) “Suruh dia pergi... pergiiii...” Anindita terus berteriak-teriak. Melani memeluknya erat. “Ibu... ...
-
MELANI KEKASIHKU 35 (Tien Kumalasari) Anindita tegak berdiri, menatap tubuh Melani yang tertelungkup sambil memeluk bantal dengan isak y...
-
Buku KMDM Kela 1 Beberapa waktu yang lalu kami mempoting buku KMDM Kelas 1 sd VI namun ada yang belum komplit yaitu buku KMDM Kelas 1 Beri...