KHOIRUL ANAM- DIWEK JOMBANG
Jumat, 03 Desember 2021
Jumat, 26 November 2021
Cerbung
MELANI KEKASIHKU 35
(Tien Kumalasari)
Anindita tegak berdiri, menatap tubuh Melani yang tertelungkup sambil memeluk bantal dengan isak yang masih terdengar.
“Ibu....”
“Bayiku yang cantik...” kata Anindita lembut.
“Aku sudah besar Bu, bukan bayi lagi.”
“Aduh... ibu lupa lagi... tapi kamu harus diam ya, jangan menangis lagi.”
“Tapi aku kangen sama bapak...” tangis Melani semakin keras.
Anindita naik ke pembaringan, berbaring disamping Melani dan memeluknya. Tapi Melani menggoyang-goyangkan tubuhnya agar pelukan ibunya terlepas. Anindita merengut. Ditatapnya tubuh Melani yang masih tertelungkup, dan tangisnya semakin menjadi-jadi.
“Sayang, cintaku... kekasih ibu.. diamlah.. jangan rewel.”
“Aku mau bapak.. aku mau bapak...”
“Bibiiiik...” teriak Anindita memanggil bibik.
“Ya, ada apa. Lho, kok nak Melani rewel lagi?” seru bibik sambil mendekat.
“Bagaimana ini bik, dia bilang kangen sama bapaknya,” sungut Anindita.
Bibik tersenyum dalam hati. Dia yakin bahwa ini pasti akal-akalan Melani saja, agar ibunya mau bertemu dengan bapaknya. Tapi bibik kecewa, wajah Anindita tampak muram, mulutnya cemberut. Berdebar hati bibik ketika melihat Anindita turun dari atas tempat tidur.
“Ibuuuu....” tangis Melani masih terdengar keras.
“Bagaimana ini bu, kalau sudah rewel susah membujuknya,” kata bibik ikut-ikutan mengompori.
Anindita keluar dari kamar, duduk di kursi dengan wajah masih muram. Bibik mendekat dan mengelus tangannya sambil duduk di lantai.
“Apa yang harus kita lakukan bu?” kata bibik hati-hati. Sesungguhnya ia takut Anindita akan mengamuk lagi gara-gara diingatkan pada suaminya.
“Aku tak tahan mendengar tangis anakku. Coba kamu gendong dia, ajak keluar dan beri mainan apa saja,” kata Anindita tanpa menatap simbok.
“Nak Melan tidak akan mau bu, bibik pernah mau menggendongnya saat dia menangis, tapi dia bilang bahwa dia sudah besar, tidak mau lagi digendong.”
Anindita mengangguk setuju.
“Bayiku sudah besar..” gumamnya.
“Bagaimana kalau kita turuti saja apa kemauannya?” kata bibik pelan, dengan sangat hati-hati.
Dan yang membuatnya takut benar-benar terjadi.
Anindita menatapnya dengan pandangan marah.
“Maaf bu, sungguh bibik mohon maaf. Jangan ibu marah. Bibik hanya ingin agar nak Melani tidak rewel lagi. Biasanya kalau anak kecil rewel, bisa menjadi sakit.”
“Apa?” Mata Anindita terbelalak, seperti ketakutan mendengar kata ‘sakit’.
“Dulu ada anak tetangga saya yang sakit panas, gara-gara kangen sama bapaknya yang bekerja ditempat jauh,” kata simbok nekat, sudah kepalang tanggung.
“Tidak... anakku tidak boleh sakit.” Lalu Anindita berdiri dan melangkah ke kamar dengan cepat. Dilihatnya Melani masih tertelungkup. Sesungguhnya dia mendengar apa yang dibicarakan bibik dan ibunya, karena ruang tengah ada diluar kamarnya.
Mendengar langkah ibunya, Melani melanjutkan isaknya. Lalu ia merasa ibunya memegangi tangannya, tengkuknya, dan seluruh tubuhnya dielusnya.
“Biik, apakah ini namanya panas? Benarkah bayi kecilku sakit?”
Bibik mendekat, dan ikutan memegang tangan Melani.
“Aduh, ini namanya agak sumer bu.”
“Sumer itu apa?” tanya Anindita khawatir.
“Sumer itu agak panas, mendekati panas.”
“Apa katamu? Ambilkan kompres, cepaat.” Anindita panik.
“Ibuuu... aku tidak mau di kompres...” Melani menangis lagi.
“Ibu nggak mau kamu sakit, sayangku..”
“Aku mau bapak...” pekik Melani semakin berani.
“Bagaimana ini bu,” kata bibik pura-pura bingung.
“Ibuuuu...”
“Baiklah, panggil bapaknya kemari.” Kata Anindita dengan ketus.
“Ibbuuu...”
“Sudah, jangan menangis,” katanya kesal.
“Tapi ibu marah.. aku mau menangis lagii..”
“Tidak.. tidak...” Anindita memeluk Melani erat-erat dengan mata berlinang-linang. Bibik terkejut. Sudah lama sekali dia tidak melihat majikannya menangis. Apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang menyentuh perasaannya yang paling dalam? Atau majikannya mulai bisa meraba-raba yang ada disekitarnya dengan hatinya?
“Bibiik.. mengapa bengong disitu?” teriak Anindita agak keras.
“Oh.. eh.. apa.. ap_pa.. yang harus saya lakukan?”
“Panggil bapaknya segera.”
“Bb_baiklah...” simbok berlari seperti terbang ke arah dapur, untuk mengambil ponselnya. Tapi kemudian dia bingung, akan diapakan ponsel itu? Dia tidak tahu harus menghubungi siapa karena dia tidak mencatat nomor ponsel keluarga majikannya.
***
“Mas sudah ke rumah sakit lagi?” tanya Maruti ketika suaminya pulang siang itu.
“Sudah, tadi kesana setelah dari kantor.”
“Bagaimana keadaan Anggoro?”
“Tadi sudah boleh duduk. Tapi aku melihat dia seperti tak bersemangat begitu.”
“Dia sangat menyesali perbuatannya, aku bisa mengerti. Tapi menurut aku keadaan Anindita seperti sudah jauh lebih baik. Dia mengingat kita, biarpun belum bisa bersikap ramah. Sikapnya masih dingin, dan hanya baik kepada bibik dan Melani.”
“Itu sudah sangat bagus. Aku yakin dia akan semakin baik. Melani benar, obat yang diminum ibunya sudah dihentikan, dan Anindita tampak tenang.”
“Melani sangat pintar mengambil hati ibunya. Aku berharap dia bisa membujuk ibunya juga agar mau memaafkan ayahnya.”
“Aku kagum pada Melani.”
“Tapi kasihan juga, dia belum diberi tahu tentang keadaan ayahnya. Bagaimana kalau aku beritahu saja mas?”
“Terserah kamu saja, tapi harus hati-hati. Sikap Anin terhadap suaminya belum kita ketahui bagaimana. Nanti kalau membuat ibunya marah malah repot kan?”
“Kalau begitu kita kesana saja. Hari ini kita belum kesana. Dan mas tidak kembali ke kantor kan?”
“Tidak, Andra sudah mengurus semuanya. Saat ini aku juga merasa tidak tenang dalam bekerja. Kepikiran keadaan Melani dan Anindita, ditambah sakitnya Anggoro.”
“Ya sudah, kita ke sana saja. Aku siap-siap ya mas?”
***
“Sa, aku mau ke rumah sakit sebentar ya, kasihan om Anggoro tidak ada yang menengok,” kata Andra di kantor setelah makan siang.
“Tapi tadi om Panji bilang mau ke rumah sakit sebentar.”
“Iya, kan cuma mampir, aku yang diserahi tugas untuk mengurus sakitnya om Anggoro, barangkali dia butuh sesuatu.”
“Baiklah, kalau ada apa-apa aku telpon kamu ya?”
Andra keluar dari ruangannya, diikuti pandangan prihatin dari Sasa, sekretaris yang juga sahabatnya.
“Kasihan keluarganya om Panji. Dulu kebingungan karena tante Anindita belum diketemukan. Setelah ketemu, bingung karena keadaannya parah. Yang satu belum kelar, om Anggoro kecelakaan,” gumam Sasa yang kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Tiba-tiba intercom diruangannya berdering. Dari CS diruang depan.
“Ya..”
“mBak, ada yang mau ketemu pak Andra.”
“Kamu kan tahu, pak Andra sedang keluar?”
“Tapi dia mau ketemu sekretarisnya. Katanya soal penting.”
“Siapa dia?”
“Seorang wanita bernama Indira.”
“Oh, wanita? Tapi baiklah, persilahkan dia menemui aku.”
Sasa duduk menunggu. Ia mengingat-ingat, apakah Andra pernah menyebut nama Indira ya? Tapi sebelum ia berhasil mengingatnya, pintu diketuk dari luar. Sasa mempersilahkan masuk, lalu seorang wanita muncul.
Sasa terpana melihatnya. Tamunya begitu cantik dan anggun. Pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuhnya membuat kecantikannya semakin menonjol. Wajah oval, hidung mancung, bibir tipis yang menawan, dan mata indah bak sepasang bintang. Aduhai. Kapan Andra mengenal wanita ini? Ada rasa tak enak dihatinya, entah mengapa.
“Selamat siang,” sapa Indira.
“Selamat siang, silahkan duduk,”
“Terimakasih,” kata Indira sambil duduk didepan Sasa. Bibirnya selalu tersenyum manis, menggambarkan sebuah keteduhan yang menawan. Dengan manis pula ia menyalami Sasa.
“Anda ingin bertemu pak Andra?”
“Ya, benar. Dia sedang keluar?”
“Ya, menjenguk kerabatnya di rumah sakit. “
“Oh, maaf. Saya Indira.”
“Saya Sasa. Sudah kenal sama pak Andra? Maksud saya sudah janjian mau ketemu pak Andra?”
“Oh, belum, saya hanya mampir, sambil ingin membicarakan sesuatu.”
Lalu Sasa teringat, Andra pernah menemukan dompet seorang wanita disebuah rumah makan. Ya, benar, Andra menyebutkan namanya, Indira. Ini ternyata orangnya? Bukan main cantiknya.
“Ada yang bisa saya bantu? Atau ada pesan untuk pak Andra?”
“Dimana kerabat pak Andra dirawat?”
“Rumah Sakit Pusat. Belum lama berangkatnya, apa anda ingin menunggu?”
“Tidak, saya mau kesana saja.”
“Sudah tahu kamar berapa beliau dirawat?”
“Saya akan menelpon dia saja. Baiklah, kalau begitu saya permisi,” katanya sambil berdiri, menyalami Sasa lagi, kemudian melenggang menuju pintu keluar.
Sasa kembali terpana. Wanita itu sungguh menarik, tapi ada rasa kurang suka dihati Sasa. Kenapa ya? Sasa juga bingung tampaknya.
“Kenapa aku ini? Dia hanya mau ketemu Andra, memangnya kenapa? Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku?” gumam Sasa sambil menyandarkan tubuhnya di kursi yang didudukinya.
***
“Melani... ayo bangunlah, jangan rewel lagi ya?”
“Aku kangen sama bapak..” bisiknya lirih.
“Iya, bibik sudah ibu suruh memanggil dia,” kata Anindita, tapi tampak bahwa ia kurang suka. Melani terdiam, paling tidak ibunya mengijinkan bapaknya datang. Entah bagaimana nanti membuat supaya ibunya mau berbaikan, Melani baru akan memikirkannya. Tiba-tiba Melani teringat, bibik tak mungkin bisa meghubungi bapaknya. Dia mana tahu nomor kontak keluarganya.
Ketika Anindita keluar, dan duduk dikursi, Melani menghampiri bibik, dan memberikan ponselnya sendiri secara diam-diam, lalu memutar nomor telpon ayahnya.
“Bik, ini aku sudah memutar nomornya bapak, bibik tunggu ya, dan bicaralah, serta meminta agar bapak mau datang kemari.”
Bibik mengangguk senang. Dia keluar rumah lewat pintu belakang, dan menunggu jawaban Anggoro dari seberang sama. Tapi lama sekali tak ada jawaban. Bibik mencoba memutar lagi, tetap tak ada jawaban. Bibik bingung. Ia akan mengatakannya pada Melani, tapi Melani sudah duduk di samping ibunya.
“Ibuuu.. mengapa wajah ibu muram? Ibu marah sama Melani?”
Anindita menatap Melani dengan tersenyum tipis.
“Ibu tidak akan marah sama bayi kecilku yang sudah besar.”
Melani tersenyum, dan memeluk ibunya erat. Ketika itulah dia melihat bibik menggoyang-goyangkan tangannya dan mulutnya berbisik mengatakan, ‘tidak bisa’.
Melani kecewa. Ia melepaskan pelukan ibunya dan bermaksud mendekati bibik untuk memberikan nomor budenya atau Andra sepupunya, tapi tiba-tiba dilihatnya bude dan pakdenya muncul.
“Ibu.. ada bude sama pakde...” teriak Melani.
Anindita bergeming. Ia mengira Anggoro akan datang bersama mereka, tapi ternyata tidak. Mereka hanya berdua.
“Dita.. apa kabarmu hari ini ?” tanya Maruti sambil mendekati Anindita yang masih saja duduk mematung.
“Bude, bude tidak bersama bapak?” tanya Melani yang membuat Maruti heran. Bagaimana mungkin Melani menanyakan ayahnya sementara ada ibunya didekatnya?”
“Ibu mau bapak datang kemari, bude. Ya kan bu?”
Anindita mengangguk, tapi wajahnya masam.
“Tolong bude telpon bapak. Ibu mengijinkan Melani bertemu bapak.”
Alangkah senang hati Maruti, karena semakin ada kemajuan pada diri adiknya.
“Mas, duduklah disini. Lihat, Dita suka kita datang, bukan? Aku membawa nagasari, makanan kesukaan kamu juga kan Dit?”
Maruti memberikan bungkusan kepada Melani. Melani mengambil piring, lalu meletakkan makanan itu di meja, di depan ibunya.
“Ibu, Melani buka bungkusnya ya? Ibu suka kan?”
Anindita hanya mengangguk. Lalu ia menerima nagasari yang sudah dikupas kulitnya, serta diletakkannya disebuah piring kecil.
“Bude sudah menelpon bapak ?”
“Belum nak. Sebentar, bude mau bilang, bahwa ayahmu sedang dirumah sakit,” kata Maruti pelan.
Bukan hanya Melani yang terkejut. Anindita menghentikan mengunyah nagasari yang sudah digigitnya. Ia juga tampak terkejut.
“Bapak sakit ?”
Maruti mengangguk.
“Kapan bude?”
“Sudah seminggu lebih.”
“Mengapa bude baru mengatakannya?” kata Melani yang mulai berkaca-kaca. Ia menduga ayahnya pasti sakit karena hatinya terluka.
“Bapakmu kecelakaan sepulang dari sini seminggu yang lalu.”
“Bapak ?”
“Maaf Melan, bude tidak ingin kamu terganggu.”
“Tidak, tidak... Ibu.. ijinkan aku ke rumah sakit untuk melihat bapak,” kata Melani sambil menangis.
“Anakku, jangan menangis..”
“Ibu, ijinkan aku pergi ke rumah sakit..”
“Kamu jangan pergi.. aku tidak mau kamu pergi...” Anindita mulai berteriak. Bibi menatapnya khawatir.
Melani memeluk ibunya.
“Ibu, kalau ibu tidak mau Melani pergi, ayolah ibu pergi bersama Melani, ya bu. Kita pergi bersama-sama..” bujuk Melani sambil tetap menangis.
Anindita menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.
Kamis, 25 November 2021
MELANI KEKASIHKU 34
(Tien Kumalasari)
“Suruh dia pergi... pergiiii...” Anindita terus berteriak-teriak.
Melani memeluknya erat.
“Ibu... ibu jangan marah ya.. ibu jangan marah sama bapak.”
“Suruh dia pergiiiii.. suruh dia pergi....” Anindita tak mau mendengarkan bujukan Melani. Kebenciannya kepada Anggoro sudah memenuhi seluruh aliran darahnya. Serasa tak akan ada tempat lagi dia dihatinya. Mata Anindita nyalang memandang ke arah luar.
“Pergiiii... suruh dia pergiii...” teriaknya tak berhenti.
Melani hanya bisa memeluknya erat. Air matanya mulai membasahi pipinya. Ia merasa kasihan kepada ayahnya yang diusir dengan kemarahan meluap oleh ibunya. Tapi dia juga iba melihat keadaan ibunya yang berteriak-teriak mengusir ayahnya.
“Baiklah, saya mau pulang dulu mas..” pamit Anggoro kepada Panji sambil berdiri dan melangkah lunglai keluar rumah.
“Bawalah mobilku Ang,” pinta Panji.
“Tidak, biar aku jalan kaki saja..” katanya sambil menjauh.
Langkahnya begitu gontai. Ia merasa seluruh tulang terlepas dari tubuhnya, sehingga ia hampir tak mampu lagi melangkah. Lalu ia menyadari, barangkali inilah yang dulu juga dirasakan isterinya ketika dia mengusirnya. Sangat bengis, tak punya perasaan. Padahal Anindita tak berdosa.
Air mata meleleh membasahi pipinya. Anggoro merasa, bahwa dia memang harus menebusnya.
“Semua memang salahku Dita. Bukan karena kamu kejam ketika kamu mengusirku. Kamu pantas membenciku, bahkan membuangku ke comberan. Aku tidak pantas menyentuhmu. Aku laki-laki tak berharga Dita, aku laki-laki lemah dan tidak bisa menjadi pelindung bagimu dan Melani, sehingga bertahun-tahun kalian menderita,” katanya sambil terus melangkah dengan lunglai.
Ia terus melangkah sehingga tak sadar ketika sebuah mobil menyerempetnya. Anggoro terpelanting, dan jatuh tak sadarkan diri.
Lalu lintas sangat ramai. Jeritan orang-orang yang terkejut, memenuhi tempat terjadinya kecelakaan itu. Mereka tak sempat menghentikan mobil yang barusan menyerempet dan kabur tanpa belas kasihan.
“Heiiii... berhenti !!” beberapa orang berteriak, tapi mobil itu berbelok di tikungan.
“Tolong pinggirkan,” kata seseorang.
“Dia berjalan terlampau ke tengah,” komentar beberapa orang.
Sebuah mobil berhenti, pengemudinya turun tak jauh dari sana, lalu setengah berlari mendekati.
“Om Anggoro ?”
Beberapa orang yang berkerumun minggir ketika mendengar laki-laki yang turun dari mobil itu menyebut sebuah nama. Dia memang Abi, yang akan pergi ke rumah bibik.
“Bapak mengenalnya?” tanya seseorang.
“Ya, dia kerabatku. Tolong bantu aku memasukkannya kedalam mobil, aku akan membawanya ke rumah sakit.
Beberapa orang membantu mengangkat tubuh Anggoro yang tak sadarkan diri, dan membaringkannya di jok belakang mobil Abi. Abi segera melarikannya ke rumah sakit.
***
“Suruh dia pergi... suruh pergiii...” Anindita masih berteriak-teriak.
Maruti mendekat, memegang tangan Anindita yang menuding-nuding ke arah depan.
“Anin... Dita... tenang ya, dia sudah pergi,” kata Maruti lembut.
Anindita melepaskan pegangan kakaknya.
“Kamu harus tenang, lihat, Melani sedih karena melihat kamu marah,” kata Maruti lagi.
Mendengar kata Melani, Anindita menoleh ke arah samping, dan melihat Melani mengusap air matanya.
“Melani kecilku ... jangan nangis..” katanya sambil memeluk Melani.
Melani terisak di pundak ibunya.
“Ibu jangan membenci bapak..”
“Dia laki-laki jahat!”
“Ibu, maafkanlah dia..”
“Dia jahat !! Aku benci.. aku benci..!” Anindita berteriak lagi.
“Baiklah ibu.. baiklah.. “ bujuk Melani sambil mengusap air matanya.
“Kamu jangan membela dia... dia itu jahat.. jahat..!”
“Baiklah, baiklah...”
“Anindita sayang, sudah, jangan marah lagi, dia sudah pergi. Kamu mau makan? Tadi aku masak rendang daging kesukaan kamu,” kata Maruti.
Anindita menatap Maruti. Ia merasa sangat dekat dengan wanita yang berdiri didepannya.
“Kamu melupakan aku? Aku sangat kangen sama kamu..”
Anindita tak menjawab, tapi matanya mulai meredup.
“Ibu, aku lapar sekali, aku mau makan,” kata Melani, untuk memancing ibunya supaya mau makan.
“Sayangku, kamu lapar? Bibiiik... mana bubur untuk Melani?”
“Ibu, aku tidak mau bubur...”
“Susu ?”
“Aku mau nasi, sama rendang...”
“Melani, anak kecil tidak boleh makan rendang, nanti perut kamu sakit.”
“Ibu, aku sudah besar...”
Anindita menatap wajah anaknya.
“Ibu selalu lupa kalau aku sudah besar..” gerutu Melani.
“Aku selalu lupa..”
“Ayolah makan ibu, aku mau ibu juga makan..”
Dan karena bujukan Melani itu pula maka Anindita bersedia makan, dengan rendang daging masakan kakaknya.
“Rendang ini sangat enak...”
“Enak sekali ibu..”
“Dulu kakakku suka masakin rendang untuk aku...” gumamnya pelan.
“Ini memang masakan kakaknya ibu. Ini masakan bude Maruti.”
Anindita berhenti menyuap makanannya. Ia seperti mengingat ingat...
“Bude Maruti sangat pintar memasak ya bu, rendangnya enak sekali.”
Anindita mengangguk lemah. Nama itu sudah sejak kemarin didengarnya, seperti tak asing baginya.
“Ibu sayang kan, sama bude Maruti? Sama pakde Panji?”
“Biiik... nak ganteng tidak kemari?” tiba-tiba teriaknya.
Bibik mendekat.
“Nak ganteng tidak kemari bu, mungkin bekerja.”
Anindita melanjutkan makan, sambil sebentar-sebentar memandangi Melani yang tersenyum-senyum mendengar ibunya ingat pada nak ganteng.
“Ibu, aku mau tidur di kasur yang empuk...” kata Melani. Anindita tampak terkejut.
“Bibiiik.. Melani minta kasur yang empuk.. apa ada?”
“Ibu, bude Maruti sudah membawa kasur yang empuk, supaya kita bisa tidur nyenyak.”
Anindita menoleh ke samping. Dilihatnya Maruti berdiri, bersandar pada pintu sambil terus memandanginya.
Maruti mengangguk-angguk, meng ‘iya’ kan apa yang dikatakan Melani.
“Daripada Melani rewel, biar mas Panji menata kasurnya ya Dit?”
Kalau ancaman itu adalah ‘Melani rewel’, Anindita tak akan bisa menolaknya. Melani adalah segala-galanya.
Lalu ia membiarkan Panji membawa kasurnya ke dalam kamar, dibantu bibik. Kasur baru itu ditumpuknya begitu saja diatas kasur lama yang sudah menipis. Itupun kepunyaan pemilik rumah yang diberikan pada bibik karena sudah tidak dipakai.
Maruti sibuk membantu mengalasi dengan seprai baru, bantal guling dengan sarung yang baru. Bibik tersenyum senang.
“Gara-gara ada nak Melani, ibu Dita lebih gampang diatur. Nak Melan sangat pintar. Dia memiliki cara yang bagus untuk meluluhkan hati ibunya,” kata bibik sambil membantu memasang sarung guling.”
“Iya bik, syukurlah. Semoga perlahan-lahan nanti Anindita bisa sembuh sepenuhnya. Dia juga belum begitu mengenal aku, ia masih memandang aku seperti memandang orang asing,” kata Maruti.
“Hanya kasihan pak Anggoro ya bu, terpaksa pergi. Pasti sangat sakit hatinya. Tapi dulu pak Anggoro juga mengusir ibu Dita bersama nak Melani yang masih bayi.”
“Untunglah ada bibik yang setia melayani. Aku harus berterimakasih sama kamu bik. Entah bagaimana nasib Dita kalau tidak ada bibik.”
“Sudahlah bu, kalau itu memang dasarnya bibik tuh sayang banget sama ibu Dita. Nah, sudah selesai, sekarang kamarnya jadi rapi.”
“Nanti kasur satunya yang lebih kecil, bisa untuk tidur bibik.”
“Aduh, mau diletakkan dimana bu, kamarnya hanya satu.”
“Tidak bik, didekat dapur itu aku lihat masih ada tempat. Ada bangku panjang yang bisa untuk meletakkan kasurnya. Nanti biar mas Panji mengaturnya.”
“Kalau begitu biar bibik bersihkan dulu ya bu.”
“Lampu kamar ini diganti yang lebih terang ya bik, adakah toko alat-alat listrik disekitar sini?”
“Ada bu, nanti saya belikan. Atau sekarang saja bu, biar kamarnya sekalian beres, sehingga ibu Dita senang. Dekat kok. Sebentar ya bu.”
“Eh, bik.. uangnya...”
“Ini masih ada bu,” kata bibik sambil menjauh.”
***
Abi menunggui Anggoro yang masih dirawat. Tapi dia sudah sadar. Dokter meminta agar Anggoro dirawat inap karena ada gegar otak walaupun ringan.
Abi sudah memilihkan kamar terbaik untuk Anggoro, tapi ia belum mengabari siapapun. Ia tahu keluarga Panji ada di rumah bibik. Kalau dia mengabari dan Melani mendengarnya, pasti dia akan sedih dan bingung, padahal dia sedang mencoba mendekati ibunya.
Abi juga ingin mengabarkannya pada Andra, tapi tadi Andra bilang akan ada tamu di kantornya, pasti dia sedang sibuk.
Abi duduk di dekat Anggoro yang sedari tadi juga tak banyak bicara.
“Apa yang om rasakan? Pusing bukan?” tanya Abi.
“Sakit...”
“Mana yang sakit om? Biar saya bilang sama dokternya.”
“Hatiku yang sakit. Bukan karena aku diusir oleh isteriku dengan kasar, tapi karena aku menyadari semua kesalahanku selama ini,” katanya pelan.
“Semua sudah berlalu. Yang berbuat kejahatan sudah pasti akan menerima hukumannya.”
“Tapi aku juga terhukum.”
“Dengan berjalannya waktu, pasti semuanya akan baik-baik saja. Jangan terlalu menyesali yang telah lalu.”
“Aku pantas mendapatkannya, bahkan lebih beratpun. Dosaku serasa tak terampuni,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Abi memegang tangan Anggoro dan menggenggamnya erat.
“Tapi Abi juga minta maaf om, Abi belum mengabari keluarga om Panji, karena ana Melani disana. Nanti kalau dia mendengarnya pasti sedih dan bingung.”
“Jangan Abi, jangan sampai Melani mendengarnya, karena saat ini dia sedang mendekati ibunya, dan berusaha membuatnya sadar.”
“Baiklah, nanti Abi akan bilang saja pada Andra, dengan pesan agar jangan sampai Melani mendengarnya.”
“Terimakasih karena kamu menolongku Abi.”
“Kebetulan saja saya melihat ketika kecelakaan itu terjadi. Saya sebenarnya mau ke rumah bibik juga.”
“Anak baik. Semoga kamu bisa menjadi menantuku,” katanya pelan.
Abi tersenyum.
“Apa kamu sudah punya pacar?”
Abi menggeleng.
“Saya mencintai Melani,” katanya berterus terang.
Anggoro menatap Abi, dan mengulaskan sebuah senyuman.
“Aku senang mendengarnya.”
***
“Syukurlah mas, tampaknya dia tertarik dengan penawaran kita tadi,” kata Sasa siang hari itu.
“Semoga berhasil. Ini proyek besar.”
“Aamiin.”
Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Andra.
“Kalau kamu sudah nggak sibuk, aku akan mengabarkan sesuatu yang tidak begitu baik.”
Andra terkejut. Pesan itu dari Abi. Tak puas hanya sebuah pesan, Andra menelponnya.
“Abi, ada apa?”
“Kamu masih sibuk?”
“Tidak, tamunya sudah pulang.”
“Om Anggoro kecelakaan.”
“Apa?”
“Kalau bisa datanglah ke rumah sakit, aku tuliskan alamatnya. Ceritanya di rumah sakit saja. Beliau harus dirawat karena lukanya. Tapi jangan sampai kamu mengabari ayah atau ibumu dulu, nanti Melani mendengarnya.”
“Baiklah, tuliskan rumah sakit dan kamarnya, aku segera ke sana.”
***
Anindita terkejut melihat kamarnya sudah rapi, dan lampunya menjadi terang benderang. Takut ibunya akan menolaknya, Melani buru-buru melompat ke atas kasur dan berbaring sambil memeluk guling.
“Ibu, ini menyenangkan, aku suka sekali,” katanya sambil berguling-guling dan tertawa-tawa. Maruti yang menyaksikan dari luar kamar, sangat kagum melihat cara Melani meluluhkan hati ibunya.
“Kamu suka?” tanya Anindita.
“Suka sekali, ayo ibu tidurlah disini.”
Kegembiraan Melani selalu membuat Anindita senang. Ia kemudian juga berbaring disamping Melani, lalu memeluk Melani dengan rasa sayang.
“Bayiku sudah besar, ibu sangat senang. Kamu tidak boleh rewel lagi ya? Kalau kamu ingin sesuatu, bilang saja pada ibu.”
“Benarkah ?”
“Tentu saja. Kamu kesayangan ibu, cinta ibu. Buah hati ibu.”
***
Hari-hari terus berlalu. Melani selalu berusaha agar ibunya senang. Sebentar-sebentar dia mengingatkan kebaikan Maruti dan Panji, sehingga membuat Anindita bisa menerima kedatangan mereka. Maruti harus berterimakasih kepada Melani, yang muncul seperti obat yang perlahan membuat Anindita semakin bisa berbiara seperti orang normal. Melani juga meminta agar bibik menghentikan pengobatan atas ibunya, yang sepertinya hanya membuat ibunya tertidur pulas. Berhari-hari Anindita tak pernah lagi meminum obatnya, dan setiap kali mendengar cerita Melani, Anindita selalu tersenyum senang. Yang membuat Melani tersenyum lucu adalah apabila setiap kali Abi datang, ibnya selalu memanggilnya nak ganteng. Tapi sejauh ini tak seorangpun memberi tahu Melani bahwa ayahnya dirawat di rumah sakit. Melani mengira, ayahnya tidak pernah datang karena menjaga perasaan ibunya.
Hari itu ketika Anindita sedang mandi, Melani duduk sendirian di kamar, sementara bibik sedang memasak di dapur. Melani mendengar ibunya berbicara dengan bibik, tentang masakan yang harus dimasaknya.
“Melani suka sekali ayam goreng. Besok beli ayam lagi ya?”
“Iya bu...”
“Tapi aku nggak punya uang bik, apa kamu masih punya?”
“Masih ada bu, bu Maruti memberikan uang pada bibik untuk belanja setiap hari.”
“mBak Maruti itu kakakku kan bik?”
“Iya bu, itu sebabnya bu Maruti sangat memperhatikan ibu, karena bu Maruti sayang sama ibu,” kata bibik.
Melani tersenyum mendengar ibunya mulai menganal kakaknya dengan baik. Anindita sudah mandi dan sudah berpakaian bersih.
Tapi ketika ia masuk ke kamar, dilihatnya Melani sedang telungkup di tempat tidur, sambil memeluk bantal. Anindita terkejut mendengar Melani terisak menangis.
“Sayangku, cintaku.. mengapa kamu menangis? Kamu ingin apa? Bilang sama ibu.”
“Ibu...”
“Ya, katakan saja kamu ingin apa..”
“Ibu.. Melani kangen sama bapak...”
Anindita mundur selangkah, urung memeluk anaknya.
.
Selasa, 09 November 2021
MELANI KEKASIHKU 19
(Tien Kumalasari)
No. 19.1
“Ah ya, maaf pak Anggoro, saya ngomongnya kok seperti tidak ada basa basi begitu ya, pasti ini mengejutkan dan membingungkan ya?”
“Tidak, tidak.. sesungguhnya memang saat ini saya sedang dalam suasana hati gelisah, tidak tenang, bahkan kalut.”
“Kenapa pak ?”
“Saya ingin tahu dengan jelas tentang seorang ibu, yang kata bapak pembantu rumah tangga ini sebelumnya. Pastinya itu bik Asih pembantu saya.”
“Ya, mungkin namanya Asih. Waktu itu masih ada isteri saya yang menerima kedatangannya. Tunggu, saya akan mengatakannya agak berurutan ya. Jadi setelah saya membeli rumah ini, kami segera pindah kemari, karena saya melihat kondisi rumah ini masih bagus dan sangat layak untuk ditempati. Ketika kami baru saja tiba dan belum selesai mengatur barang-barang kami, datang seorang ibu, yang mengatakan bahwa ada barang-barang majikannya yang tertinggal didalam kamarnya. Kami malah belum sepenuhnya melihat isi setiap kamar yang tersisa.”
Anggoro tampak mengangguk-anguk tak sabar, tapi sungkan memutus pembicaraan pak Sumanto yang ingin bercerita secara berurutan.
“Lalu ibu itu kami antarkan memasuki sebuah kamar, dan ternyata masih ada sebuah bungkusan yang pastinya berisi baju-baju,” lanjut pak Sumanto.
“Apakah dia datang sendiri ?” akhirnya Anggoro tak sabar.
“Iya. Ia meninggalkan majikannya disebuah rumah yang mereka sewa.”
“Apakah dia tidak mengatakan sesuatu selain mengambil barang yang tertinggal ?”
“Ia bilang merasa kasihan pada majikannya. Maksudnya majikan perempuan yang bersamanya. Saya tidak tahu apa yang terjadi, dan ketika dia bilang kasihan, isteri saya bertanya, kenapa, lalu dia bilang majikannya itu difitnah orang sehingga rumah tangganya hancur. Eh, nanti dulu, apakah itu ada hubungannya dengan pak Anggoro? Bukankah ini rumah pak Anggoro sebelum saya beli?”
Anggoro merasa dadanya bagai dipukul dengan ribuan palu. Apa katanya? Majikan perempuannya difitnah ? Itu kan Anindita, isterinya.
“Difitnah bagaimana ya pak Manto?”
“Suaminya menuduh dia berselingkuh sehingga dia dan anaknya yang masih bayi diusir dari rumah ini. Sekali lagi maaf, apakah pak Anggoro mengenal suami ibu itu?” tanya pak Sumanto yang mengira Anggoro hanya pemilik rumah, sedangkan wanita yang dimaksud adalah penyewa atau orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Anggoro.
“Padahal kata ibu itu, majikannya adalah seorang wanita yang baik dan bahkan tidak pernah pergi kemana-mana tanpa suami atau dirinya,” lanjut pak Sumanto.
“Apakah pak Sumanto tahu dimana mereka tinggal?” tanya Anggoro tanpa menjawab pertanyaan Sumanto tentang hubungannya dengan wanita yang dia ceritakan.
“Dulu, dia tinggal tidak jauh dari rumah ini, masuk ke gang kecil itu. Kira-kira tiga gang dari sini. Entah sekarang masih disitu atau tidak.”
“Oh,
“Oh ya, beberapa hari setelah ibu pembantu itu datang, datang lagi seorang wanita cantik, naik mobil. Dia juga menanyakan dimana ibu pembantu dan majikannya itu tinggal.”
Anggoro berdebar, siapa wanita cantik naik mobil?
“Dia mengaku saudara dari ibu majikan yang.. aduh.. namanya kok saya lupa semua ya.. Pokoknya ngaku saudara dan menanyakan dimana rumah mereka. Isteri saya juga memberi tahu tapi tidak tahu persisnya, karena ibu pembantu itu juga hanya mengatakan ancar-ancarnya. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi dengan mereka, dan melupakannya karena kesibukan kami masing-masing pastinya.”
Anggoro terdiam, dan mencoba berpikir tentang rentetan kejadian itu. Hatinya merasa tidak tenang. Ketika berpamit dari rumah Sumanto, Anggoro lalu mencoba mencari rumah yang terletak didalam gang, tiga gang dari rumah pak Sumanto.
***
Anggoro memarkir mobilnya dijalan besar, lalu mmasuki gang dengan dada berdegup kencang. Apakah bik Asih tinggal disini bersama isterinya? Berarti Melani ada disini juga? Anggoro menatap kiri kanan jalan, ada rumah-rumah berderet, yang berbeda bentuknya, tapi semuanya tampak bagus dan rapi.
Sabtu, 30 Oktober 2021
Kumpulan Mutiara Taqwa
[30/10 04:18] Jamadi KS Jombatan 4: 🕋 *MUTIARA TAKWA* 🕋
Seri: _Maulid Nabi Muhammad SAW_
*_GERAKAN CINTA RASUL_*
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Kemarin hari Jumat. Dan Jumat adalah hari dimana berbagai ayat dan hadits menerangkan banyak keutamaan dan keistimewaannya bagi orang-orang yang mengistiqomahkan melakukan berbagai ibadah & amal shalihnya.
Salah satu amaliyah sunnah di hari jumat yang paling dianjurkan adalah Memperbanyak baca Shalawat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً
_“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.”_ (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini _hasan ligoirihi_ –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-).
Untuk itu kami mengajak semua anggota Grup ini untuk memperbanyak membaca shalawat di setiap hari jumat yang mulia.
Bacaan shalawat bisa dipilih sebagai berikut :
صلى الله على محمد
صلى الله على سيدنا محمد
اللهم صل على محمد
اللهم صل على محمد و على آل محمد
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
atau bacaan yg lain...
- Semoga Allah SWT melimpahkan Keberkahan Hidup kepada kita semua. Aamiin... 🙏
والسلإم عليكم ورحمةالله وبركاته
[31/10 04:35] Jamadi KS Jombatan 4: 🕋 *MUTIARA TAKWA* 🕋
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
_*DOA YANG PALING SERING DIBACA RASULULLAH SAW.*_
_*Doa yang sering dibaca Rasulullah sudah sepatunya kita sebagai umat Islam meneladaninya.*_
_*✅ Rasulullah Saw selalu menyertai doa dalam setiap aktifitasnya. Diantara doa-doa yang pernah dibaca :*_
_*Ada dua doa yang paling sering dipanjatkan Nabi Saw, yaitu :*_
_اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ_
_🤲 "Allahumma rabbanaa aatina fid dun-ya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qina ‘adzaban naar."_
_*“Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka.”*_
_*✅️ Doa lain yang paling sering dipanjatkan Rasulullah Saw adalah doa memohon keteguhan iman, yaitu :*_
_يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيَ عَلَى دِينِكَ_
_🤲 "Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘ala dinika."_
_*“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama - Mu.”*_
_*↗️ Imam Abu Daud meriwayatkan dalam sunannya, dari Syahr bin Hausyab berkata : Aku mendatangi Ummu Salamah dan bertanya “Beritahu aku doa yang paling sering diucapkan Nabi Saw”, Ummu Salamah pun menjawab Doa yang paling sering dibaca Nabi Saw adalah :_ _*“Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘ala dinika.”*_
_↗️ Lalu Rasulullah Saw ditanya mengenai hal ini “Ya Rasulullah, mengapa engkau sering membaca doa ini ??" : *“Sesungguhnya hati anak Adam berada di antara dua ujung jari Ar-Rahman, apabila Ia berkehendak maka akan diteguhkan ( imannya ) dan jika Ia berkehendak maka Ia akan mencabutnya.”*_
_Dengan meneladani doa yang sering dibaca Rasulullah ini, kita bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendapatkan berkah._
_*Aamiin Allahumma AamiinAamiin*_
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Selasa, 16 Juli 2019
Kamis, 11 Juli 2019
PEIALAI K13 K1 DAN K2 YANG TERITEGRAI DENGAN PPK
Berikut ini adalah contoh sikap spiritual yang dapat digunakan dan dinilai pada semua mata pelajaran:
- tidak menyontek dalam mengerjakan ujian atu ulangan.
- tidak menjadi plagiat .
- mengungkapkan perasaan apa adanya.
- menyerahkan barang yang ditemukan kepada yang berwenang.
- membuat laporan berdasarkan data.
- mengakui kesalahan atau kekurangannya.
- datang tepat waktu.
- patuh terhadap tata tertib sekolah;
- mengumpulkan tugas sesuai tepat waktu.
- melaksanakan tugas individu dengan baik.
- menerima resiko dari tindakan yang dilakukan.
- tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti.
- mengembalikan barang yang dipinjam.
- mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan.
- menepati janji.
- tidak menyalahkan orang lain.
- melaksanakan apa yang pernah dikatakan.
Indikator Penilaian Sikap Spiritual dan Sikap Sosial dalam kurikulum 2013
- menghormati orang yang lebih tua.
- tidak berkata-kata kotor, kasar, dan takabur.
- bersikap 3 S (salam, senyum, sapa).
- tidak menyela pembicaraan orang lain.
- mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan orang lain.
- tidak meludah di sembarang tempat.
- meminta ijin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau menggunakan barang milik orang lain.
- memperlakukan orang lain dengan santun.
- berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu.
- mampu membuat keputusan dengan tepat.
- tidak mudah putus asa.
- tidak canggung dalam bertindak.
- berani presentasi di depan kelas.
- berani berpendapat, bertanya, atau menjawab pertanyaan.
- membantu orang yang memerlukan.
- tidak melakukan aktivitas yang mengganggu orang lain.
- melakukan aktivitas sosial untuk membantu orang lain.
- memelihara lingkungan sekolah.
- membuang sampah pada tempatnya.
- mematikan kran air.
- mematikan lampu yang tidak digunakan.
- tidak merusak tanaman di lingkungan sekolah
-
MELANI KEKASIHKU 34 (Tien Kumalasari) “Suruh dia pergi... pergiiii...” Anindita terus berteriak-teriak. Melani memeluknya erat. “Ibu... ...
-
MELANI KEKASIHKU 35 (Tien Kumalasari) Anindita tegak berdiri, menatap tubuh Melani yang tertelungkup sambil memeluk bantal dengan isak y...
-
Buku KMDM Kela 1 Beberapa waktu yang lalu kami mempoting buku KMDM Kelas 1 sd VI namun ada yang belum komplit yaitu buku KMDM Kelas 1 Beri...