Selasa, 09 November 2021

 MELANI KEKASIHKU  19


(Tien Kumalasari)


 No. 19.1


“Ah ya, maaf pak Anggoro, saya ngomongnya kok seperti tidak  ada basa basi begitu ya, pasti ini mengejutkan dan membingungkan ya?”


“Tidak, tidak.. sesungguhnya memang saat ini saya sedang dalam suasana hati gelisah, tidak tenang, bahkan kalut.”


“Kenapa pak ?”


“Saya ingin tahu dengan jelas tentang seorang ibu, yang kata bapak pembantu rumah tangga ini sebelumnya. Pastinya itu bik Asih pembantu saya.”


“Ya, mungkin namanya Asih. Waktu itu masih ada isteri saya yang menerima kedatangannya. Tunggu, saya akan mengatakannya agak berurutan ya. Jadi setelah saya membeli rumah ini, kami segera pindah kemari, karena saya melihat kondisi rumah ini masih bagus dan sangat layak untuk ditempati. Ketika kami baru saja tiba dan belum selesai mengatur barang-barang kami, datang seorang ibu, yang mengatakan bahwa ada barang-barang majikannya yang tertinggal didalam kamarnya. Kami malah belum sepenuhnya melihat isi setiap kamar yang tersisa.”


Anggoro tampak mengangguk-anguk tak sabar, tapi sungkan memutus pembicaraan pak Sumanto yang ingin bercerita secara berurutan.


“Lalu ibu itu kami antarkan memasuki sebuah kamar, dan ternyata masih ada sebuah bungkusan yang pastinya berisi baju-baju,” lanjut pak Sumanto.


“Apakah dia datang sendiri ?” akhirnya Anggoro tak sabar.


“Iya. Ia meninggalkan majikannya disebuah rumah yang mereka sewa.”


“Apakah dia tidak mengatakan sesuatu selain mengambil barang yang tertinggal ?”


“Ia bilang merasa kasihan pada majikannya. Maksudnya majikan perempuan yang bersamanya. Saya tidak tahu apa yang terjadi, dan ketika dia bilang kasihan, isteri saya bertanya, kenapa, lalu dia bilang majikannya itu difitnah orang sehingga rumah tangganya hancur. Eh, nanti dulu, apakah itu ada hubungannya dengan pak Anggoro? Bukankah ini rumah pak Anggoro sebelum saya beli?”


Anggoro merasa dadanya bagai dipukul dengan ribuan palu. Apa katanya? Majikan perempuannya difitnah ? Itu kan Anindita, isterinya.


“Difitnah bagaimana ya pak Manto?”


“Suaminya menuduh dia berselingkuh sehingga dia dan anaknya yang masih bayi diusir dari rumah ini. Sekali lagi maaf, apakah pak Anggoro mengenal suami ibu itu?” tanya pak Sumanto yang mengira Anggoro hanya pemilik rumah, sedangkan wanita yang dimaksud adalah penyewa atau orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Anggoro.


“Padahal kata ibu itu, majikannya adalah seorang wanita yang baik dan bahkan tidak pernah pergi kemana-mana tanpa suami atau dirinya,” lanjut pak Sumanto.


“Apakah pak Sumanto tahu dimana mereka tinggal?” tanya Anggoro tanpa menjawab pertanyaan Sumanto tentang hubungannya dengan wanita yang dia ceritakan.


“Dulu, dia tinggal tidak jauh dari rumah ini, masuk ke gang kecil itu. Kira-kira tiga gang dari sini. Entah sekarang masih disitu atau tidak.”


“Oh,


“Oh ya, beberapa hari setelah ibu pembantu itu datang, datang lagi seorang wanita cantik, naik mobil. Dia juga menanyakan dimana ibu pembantu dan majikannya itu tinggal.”


Anggoro berdebar, siapa wanita cantik naik mobil?


“Dia mengaku saudara dari ibu majikan yang.. aduh.. namanya kok saya lupa semua ya.. Pokoknya ngaku saudara dan menanyakan dimana rumah mereka. Isteri saya juga memberi tahu tapi tidak tahu persisnya, karena ibu pembantu itu juga hanya mengatakan ancar-ancarnya. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi dengan mereka, dan melupakannya karena kesibukan kami masing-masing pastinya.”


Anggoro terdiam, dan mencoba berpikir tentang rentetan kejadian itu. Hatinya merasa tidak tenang.  Ketika berpamit dari rumah Sumanto, Anggoro lalu mencoba mencari rumah yang terletak didalam gang, tiga gang dari rumah pak  Sumanto.


***


Anggoro memarkir mobilnya dijalan besar, lalu mmasuki gang dengan dada berdegup kencang. Apakah bik Asih tinggal disini bersama isterinya? Berarti Melani ada disini juga? Anggoro menatap kiri kanan jalan, ada rumah-rumah berderet, yang berbeda bentuknya, tapi semuanya tampak bagus dan rapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar